• 081806000234
  • Senin - Sabtu : 09:00 - 20:00

Gap Indeks Literasi Keuangan di wilayah pedesaan dan perkotaan menjadi tantangan dalam perkembangan Inklusi Keuangan di Indonesia


Gap Indeks Literasi Keuangan di wilayah pedesaan dan perkotaan menjadi tantangan dalam perkembangan Inklusi Keuangan di Indonesia

Fakultas Ekonomi dan Bisnis menyelenggarakan Webinar Nasional dengan tema Literasi Keuangan : Tantangan dan Solusi Inklusi Digital Bagi Generasi Millenial di Era Pandemi. Jum’at, (26/02/2021)

Kepala Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, Budi Widihartanto di daulat sebagai sebagai Keynote Speaker;  Dr. H. Rizqullah, MBA selaku mantan Dirut BNI Syariah; Sari Laelatul Qodriah, M.SI selaku Dekan FEB Universitas Muhammadiyah Cirebon; dan Zulfikar, MM, RFP sebagai Finansial Planner ketiganya di daulat menjadi panelis.

Achmad Rozi selaku Dekan FEB UPG dalam sambutannya  mengatakan kegiatan Webinar merupakan rangkaian dari kegiatan akademik yang harus dilaksanakan oleh Mahasiswa sebagai bentuk pelaksanaan tugas kelas matakuliah disemester ganjil yang dibimbing oleh dosen pengampu matakuliah.

“Kami berharap dengan kegiatan ini Mahasiswa dapat mengetahui dan memeahami secara komperhensif persoalan tentang Literasi keuangan dan Inklusi Digital.  Setelah mahasiswa memahami, maka diharapkan mahasiswa dapat kritis dengan fenoma actual yang berkembang tentang literasi keuangan”. Rozi menambahkan.

Budi Widihartanto yang didaulat menjadi keynote speaker dalam uraian materinya menyampaikan bahwa terdapat begitu banyak manfaat inklusi keuangan digital terhadap perekonomian, khususnya bagi regulator, pemerintah dan pihak swasta.

Lebih lanjut Budi menambahkan, “diantara manfaat inklusi keuangan tersebut adalah meningkatkan efisiensi ekonomi, mendukung stabilitas system keuangan, mendukung pendalaman pasar keuangan, mendukung peningkatan Human Development Indek (HDI), dan berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi local dan nasional yang berkelajutan.” tegasnya.

Sementara Dr. Rizqullah memaparkan bahwa tantangan pengembangan Literasi Keuangan dan Inklusi Digital hari ini meliputi, Tantangan demografi mulai dari bahasa, agama, budaya, suku, agama, hingga tingkat ekonomi dan pendidikan di masing-masing wilayah. Diperparah lagi dengan Akses internet yang belum merata di seluruh wilayah Indonesia membuat edukasi tanpa tatap muka menjadi cukup sulit digencarkan.

“ Gap indeks literasi keuangan di wilayah pedesaan dan perkotaan, di mana di wilayah perkotaan indeksnya lebih tinggi. Dari total 34 provinsi di Indonesia, 21 provinsi indeks literasinya dan 19 provinsi indeks inklusi keuangannya masih di bawah indeks nasional.” tegasnya.

“Solusi Literasi dan Inklusi keuangan hari ini  harus Edukasi dan sosialisasi terprogram, terpadu /terintegrasi, dan berkesinambungan oleh segenap stakeholders (pemerintah, Asosiasi spt KADIN, Regulator, Sekolah/ PT, Ormas dsb) tentang produk dan layanan keuangan digital, termasuk risikonya dengan skala prioritas berdasarkan kondisi demografi dan geografinya” ujar Rizqullah yang juga tercatat sebagai Dosen Pascasarjana di Universitas Trisakti Jakarta ini menambahkan. (aer)